Bojonegoro - Program Studi Farmasi STIKES Rajekwesi Bojonegoro kembali menyelenggarakan kegiatan Kuliah Pakar pada Rabu, 17 Juni 2026, dengan tema “Pengembangan Produk Farmasi dari Formulasi hingga Produksi: Perspektif Industri pada Sediaan Cair, Semi Padat, dan Steril.” Kegiatan ini menghadirkan apt. Irfan Imam Taufik, S.Farm., M.Farm. Ind., seorang praktisi industri yang saat ini berkarier sebagai R&D Specialist Intra Ocular Lens and Aesthetic Skin di PT Rohto Laboratories Indonesia.
Kuliah pakar berlangsung dengan
lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa. Dalam pemaparannya, apt.
Irfan membagikan pengalaman serta wawasan mengenai proses panjang yang harus
dilalui sebuah produk farmasi sebelum akhirnya dapat digunakan oleh masyarakat.
Beliau menjelaskan bahwa industri farmasi tidak hanya berfokus pada produksi
obat, tetapi juga mencakup kegiatan penelitian, pengembangan, pengujian, hingga
distribusi produk kesehatan yang aman dan berkualitas. Ketua STIKes Rajekwesi,
Evita Muslima Isnanda Putri, S.Kep., Ns., M.Kep mengemukakan, “Kuliah pakar ini
dapat membantu memberikan gambaran tentang dunia kerja di industri farmasi saat
ini, dan menjadi peluang karir untuk masa depan mahasiswa Prodi S1 Farmasi
Stikes Rajekwesi Bojonegoro”
Mahasiswa diajak memahami bagaimana
sebuah ide produk dikembangkan melalui proses penelitian dan pengembangan (Research
and Development/R&D), mulai dari tahap formulasi, pengujian, hingga
produksi dalam skala industri. Melalui berbagai contoh yang diberikan, peserta
memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan dan tanggung jawab yang dihadapi
industri farmasi dalam menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu.
Narasumber juga menekankan
pentingnya penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sebagai pedoman utama
dalam industri farmasi. CPOB memastikan bahwa seluruh proses produksi dilakukan
secara konsisten dan terkontrol, mulai dari sumber daya manusia, fasilitas,
peralatan, proses produksi, pengawasan mutu, hingga penyimpanan dan distribusi
produk. Penerapan sistem ini menjadi kunci dalam menjamin bahwa obat yang
dihasilkan aman, berkhasiat, dan bermutu.
Selain itu, beliau menegaskan bahwa
kualitas produk farmasi harus selalu menjadi prioritas utama. Sebuah produk
tidak dapat dipasarkan hanya karena memiliki nilai bisnis, tetapi harus
terlebih dahulu melalui berbagai tahapan pengujian dan memperoleh izin edar
dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai bukti bahwa produk tersebut
telah memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa
tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga wawasan praktis
mengenai dunia industri farmasi dari seorang profesional yang terlibat langsung
dalam pengembangan produk. Diharapkan kuliah pakar ini dapat menumbuhkan
motivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi serta mempersiapkan
diri menghadapi tantangan dan peluang karier di industri farmasi pada masa
mendatang.


Posting Komentar