Bojonegoro – STIKes Rajekwesi Bojonegoro kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema "Kangaroo Care Team untuk Pencegahan Hipotermi pada BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) Berbasis Keluarga di Desa Ngumpak Dalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro." Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026, bertempat di Balai Desa Ngumpak Dalem.
Pengabdian masyarakat ini merupakan implementasi tridarma perguruan tinggi STIKes Rajekwesi Bojonegoro dalam memberikan kontribusi nyata terhadap upaya penanganan kasus Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) yang berisiko mengalami hipotermi. BBLR merupakan bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang usia kehamilan, yang memerlukan penanganan khusus agar terhindar dari berbagai komplikasi, salah satunya hipotermi.
Kegiatan tersebut melibatkan kader kesehatan Desa Ngumpak Dalem dan dihadiri oleh Kepala Desa Ngumpak Dalem yang wakili oleh Ibu Eli selaku Kepala Seksi Pemerintahan Desa, Ibu Ika selaku Bidan Desa, serta tim pengabdi dari STIKes Rajekwesi Bojonegoro yang dipimpin oleh Ibu Nur Azizah, Bd., M.Keb. bersama mahasiswa Program Studi Kebidanan.
Dalam sambutannya, Bidan Desa Ika menjelaskan bahwa Kangaroo Mother Care (KMC) atau metode kanguru merupakan salah satu metode perawatan yang efektif bagi bayi prematur maupun BBLR melalui kontak kulit ke kulit antara bayi dan orang tua. Metode ini dianalogikan seperti seekor kanguru yang membawa anaknya di dalam kantung untuk menjaga kehangatan tubuh sekaligus memperkuat ikatan emosional (bonding) antara bayi dan orang tua.
"Perawatan metode kanguru sangat penting karena mampu membantu menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil, meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, serta mempererat hubungan antara bayi dengan orang tua. Kami berharap kegiatan ini menjadi penyegaran bagi para kader kesehatan agar semakin optimal dalam mendampingi keluarga yang memiliki bayi BBLR," ungkap Bidan Ika.
Pada kegiatan ini, peserta memperoleh edukasi mengenai penanganan bayi BBLR yang berfokus pada menjaga kehangatan tubuh melalui metode kanguru, pemenuhan nutrisi dengan pemberian ASI eksklusif secara optimal, serta pencegahan infeksi. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pemantauan suhu tubuh, berat badan, dan kecukupan asupan gizi bayi secara berkala.
Ketua tim pengabdi, Ibu Nur Azizah, menyampaikan bahwa pemberdayaan keluarga menjadi kunci utama dalam keberhasilan perawatan bayi BBLR di rumah. Mengingat keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan untuk merawat seluruh bayi BBLR secara intensif, keluarga perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan agar mampu melakukan perawatan harian secara mandiri, terutama dalam mempertahankan suhu tubuh bayi dan mencegah terjadinya hipotermi.
Melalui pembentukan Kangaroo Care Team berbasis keluarga, diharapkan tercipta sinergi antara tenaga kesehatan, kader, dan keluarga dalam meningkatkan kemampuan masyarakat merawat bayi BBLR secara tepat. Kehadiran tim ini diharapkan mampu menekan angka kejadian hipotermi serta mencegah komplikasi yang dapat meningkatkan risiko kesakitan maupun kematian pada bayi dengan berat lahir rendah.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi STIKes Rajekwesi Bojonegoro dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di masyarakat, sekaligus memperkuat peran kader kesehatan sebagai ujung tombak edukasi dan pendampingan keluarga di tingkat desa.



Posting Komentar