Seminar ini berlangsung dalam suasana kondusif dan interaktif. Para peserta mengikuti kegiatan dengan penuh antusias, aktif berdiskusi, serta terlibat secara kooperatif dalam sesi tanya jawab yang diselenggarakan setelah pemaparan kasus asuhan keperawatan keluarga.
Dalam kegiatan tersebut, Ibu Siti Patonah, S.Kep., Ns., M.Kes. menekankan pentingnya ketepatan penulisan dan penerapan asuhan keperawatan keluarga. Beliau menyampaikan bahwa pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga dilakukan dalam bentuk kunjungan, bukan perhitungan waktu harian.
“Asuhan keperawatan keluarga dilaksanakan dalam tiga kali kunjungan, bukan tiga kali dua puluh empat jam. Selain itu, implementasi harus disertai waktu pelaksanaan dan tindakan nyata yang benar-benar dilakukan kepada pasien dan keluarga,” tegasnya.Beliau juga mengingatkan bahwa seluruh proses asuhan keperawatan wajib mengacu pada SDKI, SLKI, dan SIKI, serta menegaskan bahwa pada kasus TBC, diagnosa yang digunakan adalah risiko penularan, bukan lagi risiko infeksi.
Sementara itu, Ibu Fidrotin Azizah, S.Kep., Ns., M.Kep. menyampaikan pentingnya ketepatan dalam menentukan diagnosa keperawatan sesuai kondisi pasien dan keluarga.
“Diagnosa keperawatan harus benar-benar berdasarkan kebutuhan dan data yang ada. Diagnosa boleh diambil lebih dari satu selama relevan, serta penentuan prioritas harus menggunakan skoring agar intervensi yang diberikan tepat sasaran,” jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Ibu Novia Dwi Astuti, S.Kep., Ns., M.Kep. yang menekankan ketepatan format dalam penulisan diagnosa keperawatan.
“Penulisan diagnosa keperawatan harus mengikuti format PES, karena dari sanalah intervensi, implementasi, dan evaluasi dapat tersusun secara sistematis dan terarah,” ungkapnya.
Selain itu, Ibu Evita Muslima Isnanda Putri, S.Kep., Ns., M.Kep. menyoroti pentingnya pembaruan dokumentasi asuhan keperawatan.
“Dokumentasi asuhan keperawatan harus selalu di-update sesuai kondisi pasien yang aktual. Mahasiswa juga perlu membedakan antara masalah keperawatan keluarga dan lima tugas keluarga agar tidak terjadi kesalahan dalam penetapan masalah,” tuturnya.
Adapun Ibu Titik Nuryanti, S.Kep., Ns., M.Kep. memberikan pemahaman mendalam mengenai konsep asuhan keperawatan keluarga.
“Asuhan keperawatan keluarga mencakup peran keluarga dalam merawat anggota yang sakit, manajemen keluarga dengan gangguan kesehatan, hingga pendampingan pasien gangguan jiwa agar tetap aman, stabil, dan tidak kambuh dengan pengawasan yang tepat,” jelasnya.
Kegiatan seminar ini diselenggarakan sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menyusun serta menganalisis asuhan keperawatan keluarga secara komprehensif. Melalui seminar kasus, mahasiswa dilatih berpikir kritis, berkomunikasi secara ilmiah, serta mempersiapkan diri menghadapi praktik klinik dan dunia kerja.
Secara keseluruhan, kegiatan berjalan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Masukan serta arahan dari para dosen pembimbing menjadi bahan evaluasi penting bagi mahasiswa dalam memperbaiki kualitas penyusunan asuhan keperawatan keluarga ke depannya, khususnya dalam penulisan diagnosa, penentuan prioritas masalah, serta kesesuaian implementasi dan dokumentasi dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna meningkatkan mutu pembelajaran keperawatan.

Posting Komentar